 |
| Permainan Gobag Sodor. |
Pendahuluan
Perkembangan zaman semakin pesat, berbagai temuan imajinasi permainan dengan teknologi serta pola pikir masyarakat semakin maju. Pesatnya teknologi berdampak positif dan negatif dikembangan disesuaikan dengan kebutuhan dan prilaku masyarakat. Jika kita telaah, permainan anak tempo dulu mengandung intrik dan strategi pendewasaan lewat permainan, nilai nilai yang paling penting dalam setiap permainan anak memiliki makna humanis, motorik serta unsur kepemimpinan.
Budaya matrialistis kini sudah menjadi komoditas dan barang bergengsi, sifat acuh terhadap sesama semakin menguat, jiwa tolong menolong sudah berkurang, kita jarang melihat suasana kerja gotong royong, suasana kebersamaan di dalam masyarakat, saat ini masyarakat cenderung beraktivitas individu dan lebih banyak memperbincangkan infotaiment, nonton televisi dan bermain game online.
Di dalam tulisan ini, kami telah menggunakan sumber-sumber masyarakat yang masih memiliki ingatan mengenai permainan tradisional dalam jumlah yang terbatas, dokumen ingatan para pelaku permainan tempo dulu para sesepuh yang mau memberikan informasi menjadi bagian penting dalam tulisan ini.
Mas Mangun Di Karya dalam catatannya terkait sumber tentang dolanan dan tembang bocah yang terbit pada tahun 1914, seorang pengawas sekolah di afdeeling Serang merupakan salah satu referensi penting dalam mendeskripsikan permainan tradisional Banten.
Agak sulit memang untuk mendeskripsikan sebuah tradisi masyarakat yang sudah dilupakan dan ditinggalkan oleh sebagian para pelakunya (anak-anak) yang kini sudah berumur, yang pelestariannya hampir terputus kepada generasi berikutnya.
Tidak ada yang patut disalahkan perkembangan berpikir, dan kreatif merupakan tuntutan jaman dalam upaya meningkatkan karya karya manusia yang semakin maju, namun perlu adanya kesadaran untuk tetap berpikir bahwa kearifan lokal harus menjadi landasan dalam membuat pakem aturan kehidupan yang mampu berinteraksi dalam masyarakat yang multi kultural.
Persebaran Permainan Tradisional di Banten
Permainan tradisional merupakan bagian dari kebudayaan. Permainan tradisional atau disebut juga permainan rakyat adalah produk kebudayaan yang sengaja diciptakan untuk memenuhi kebutuhan rekreasi anak. Maslow menyebutnya sebagai kebutuhan afiliasi yaitu kebutuhan manusia akan membentuk sebuah hubungan atau bekerjasama dengan orang lain.
Bagi anak-anak hubungan itu dibangun melalui permainan. Tampaknya memang masyarakat dulu menyadari, bahwa fase anak-anak adalah fase bermain, maka dari itu masyarakat menciptakan berbagai permainan untuk menunjang kebutuhan anak tersebut.
Saat ini tidak banyak orang yang mengetahui tentang bagaimana ragam permainan unik zaman dulu, khususnya di Provinsi Banten, hal ini disebabkan karena semakin terkikisnya kebudayaan zaman dulu oleh kebudayaan modern. Dulu anak-anak bermain dengan cara membentuk kelompok, berinteraksi, dan terjadi komunikasi langsung, tapi semenjak manusia menciptakan game online melalui teknologi (misal:handphone), permainan tradisional tersebut lambat laun ditinggalkan. Akibatnya dari perubahan ini jelas akan menibulkan konsekuensi sendiri bagi perkembangan intelektual maupun emosional anak.
Banten sebagai ruang budaya, terlihat jelas pada ungkapan gawe kuta baluarti bata kalawan kawis yang tertulis pada babad Banten pupuh XXII, nampaknya bukan sekedar catatan yang bermakna membangun kota dan perbentengan dari bata dan karang, akan tetapi lebih dari pada itu, memadukan dua kebudayaan utara yaitu masyarakat yang penduduk bersuku bangsa jawa yang datang belakangan setelah adanya kesultanan di tanah Banten pada abad ke 16 masehi. Wilayah Banten selatan yang penduduknya bersuku bangsa sunda, bahkan masih terdapat satu komunitas yang memeluk agama sunda sebagai kepercayaan mereka, termasuk satu sub etnik Betawi yang mendiami sebagian wilayah Tangerang (Rosidi, 1999).
Wilayah utara Banten, terdiri dari masyarakat kota Cilegon, Kota Serang, sebagian Kabupaten Serang, dan sebagian kabupaten Tangerang, yang menggunakan bahasa jawa Serang atau bahasa Jawa dialek Banten sebagai bahasa sehari hari. Wilayah Banten selatan terdiri atas; Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, sebagian Kabupaten Serang, sebagian Kabupaten Tangerang, sebagian Kota Tangerang, dan sebagian Kota Tangerang Selatan. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Banten bagian selatan adalah bahasa sunda, sedangkan orang Betawi yang sebagian besar berada di wilayah kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, merupakan penduduk Betawi Ora/udik.
Pengaruh bahasa di Banten Utara, Selatan, Barat atau Timur tidak berpengaruh banyak terhadap permainan tradisional, kalaupun ada biasanya hanya dari penyebutan nama permainan tradisional tersebut. Misalnya, Gamsit yang digunakan di daerah Banten selatan, sedangkan oleh penduduk Banten Utara disebut Gamsut. Banyak hal yang menarik perhatian dari perjalanan menelusuri jejak sejarah Kesultanan Banten dan kekuasaan kolonial Belanda di tanah Banten yang masih ada dan hidup di masyarakat khususnya yang berhubungan dengan permainan tradisional. Daerah-daerah yang masih memainkan permainan tradisional antara lain sebagai berikut:
Kabupaten Serang bagian barat meliputi daerah Pulo Ampel, Bojonegara, Kramatwatu, Waringin Kurung dan Anyer. Daerah ini merupakan daerah yang menggunakan Bahasa Jawa Banten dengan dialek “e” Banyak terdapat Permainan Tradisional, Kabupaten Serang Bagian Selatan yang berbahasa sunda seperti Baros, Padarincang, Ciomas, Cinangka, Bandung, Pamarayan dan Kopo, Permainan Tradisional yang banyak dimainkan hampir sama dengan permainan tradisional yang dimainkan di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Kabupaten Serang Timur yang memiliki karakter gaya bahasa yang berbeda. Gaya bahasa di Kabupaten Bagian Timur dengan gaya bahasa bertutur, banyak penuturannya didominasi dengan akhiran “a’ memiliki jenis permainan tradisional yang hampir sama dengan di Tangerang. Di Kota Serang sebaran permainan Tradisionalnya lebih banyak dan beragam jenis permainannya. Hal ini dimungkinkan terjadinya karena banyaknya masyarakat urban dan menjadikan sebagai sebaran permainan tradisional lebih banyak dan beragam. Selanjutnya di Kota Cilegon, permainan tradisional anak juga tidak jauh berbeda dengan kota Serang dan sebagian Kecamatan di Kabupaten Serang. Hanya sebagian kecil di Kota Cilegon dipengaruhi oleh heterogennya masyarakat Kota Cilegon.
Sementara itu, di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang menjadi pusat penyebaran budaya Banten Selatan dan menjadi daerah yang sangat kaya terkait permainan tradisional dengan ciri khas kasundaannya. Adapun Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan memiliki permainan Tradisional yang tidak jauh berbeda dengan Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Tangerang, yang mempengaruhi permainan tradisional di Tangerang karena adanya pengaruh suku Betawi Ora/ Udik yang terlihat jelas di permainan tradisional tersebut.
Banten memilki banyak sekali ragam permainan tradisional yang sudah ada sejak zaman dulu. Permainan tradisional di Banten umumnya memiliki kesamaan dengan permainan-permainan tradisional di wilayah Indonesia lainnya, hanya saja biasanya berbeda pada penyebutan nama permainannya. Beberapa permainan tradisional di Banten sudah mulai hilang, padahal permainan tradisional ini memiliki sifat unik dan banyak manfaatnya untuk anak-anak dibandingkan permainan modern sekarang. Selain dapat melatih fisik dan mental permainan tradisional secara bersamaan juga bermanfaat untuk melatih kreatifitas, ketangkasan dan kecerdasan terutama kecerdasan emosional melalui sosialisasi antar teman.
Berdasarkan Undang-Undang No 7 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, permainan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat. Dengan demikian, permainan tradisional perlu diperkenalkan, dan dilestarikan sebagai sumber pengetahuan dan identitas budaya. Permainan tradisional memiliki nilai-nilai luhur sebagai budaya bangsa dan dapat menjadi sarana untuk membangkitkan rasa cinta tanah air, cinta gotong royong, dan dapat membantu dalam pembentukan karakter Bangsa.
Jenis-Jenis Permainan Tradisional di Banten
Di Provinsi Banten terdapat banyak sekali berbagai jenis permainan tradisional. Berdasarkan hasil penelusuran Banten Heritage permainan tersebut diantaranya adalah Egrang, Gobag, Pangkal, Bebentengan, Gamsit, Gambreng, Cang Kacang Panjang, Gobag, Cing Ciripit dan Engkle.
1. Gamsit
 |
| Permainan gamsit/dok.banten heritage. |
Nama Permainan : Gamsit
Jumlah pemaiN : 2 (dua) orang
Alat yang digunakan : Jari
Fungsi alat : Sebagai alat untuk memenangkan Permainan
Cara bermain : Cara mengundi untuk dua orang
2. Gambreng
 |
| Permainan Gambreng/dok.banten heritage. |
Nama mainan : Gambréng
Jumlah pemain : 3 (tiga) orang atau lebih
Alat yang digunakan : Telapak dan balik telapak tangan
Fungsi alat : Sebagai alat untuk memenangkan per-mainan
Cara bermain : Cara mengundi untuk tiga orang
3. Cang Kacang Panjang
 |
| Permainan Cang-Kacang Panjang/dok.banten heritage. |
Nama mainan : Cang Kacang Panjang
Jumlah pemain : Lebih dari tiga orang
Alat yang digunakan : Tidak ada
Fungsi alat : Tidak ada
Cara bermain : Cara mengundi lebih dari tiga orang
4. Cing Ciripit |
| Permainan Cing Ciripit/dok.banten heritage. |
Nama mainan : Cing Ciripit
Jumlah pemain : Lebih dari dua orang
Alat yang digunakan : Tidak ada
Fungsi alat : Tidak ada
Cara bermain : Seorang anak bertindak sebagai “penadah”, beberapa anak menujukkan jari telunjuknya ke tangah si “penadah”. Yang terpegang tangannya, dia lah yang kalah dalam permainan ini.
5. Gobag
 |
| Permaina Gobag |
Nama mainan : Gobag
Jumlah pemain : 4 (empat) sampai 6 (enam) orang setiap tim, maksimal 2 tim.
Alat yang digunakan : Tidak ada
Fungsi alat : Tidak ada
Cara Bermain : Menghadang lawan jangan sampai melewati garis/kotak
yang sudah disediakan.
6. Engkle Dingklong
 |
| Permainan Engkle/dok.banten heritage. |
Nama mainan : Éngklé/Dingklong
Jumlah Pemai : Dua orang atau lebih, bisa laki-laki dan perempuan
Alat yang digunakan : Batu pipih atau pecahan genting
Cara bermain : Mencoba untuk mengalahkan lawan dengan menguasai bidang kotak dengan cara ditandai bidang.
Permainan yang satu ini, terdapat hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Iswinarti, (2007) telah menemukan 43 variasi nama untuk permainan éngklé atau dalam bahasa Inggris ”Hopscotch”. Istilah tersebut berbeda menurut daerah masing-masing, antara lain: Éngkle (Jawa ), Asinan, Gala Asin (Kalimantan), Intingan (Sampit), Tengge-tengge (Gorontalo), Cak Lingking (Bangka), Dengkleng, Teprok (Bali), Gili-gili (Merauke), Deprok (Betawi), Gedrik (Banyuwangi), Bak-baan, engkle (Lamongan), Bendang (Lumajang), Engkleng (Pacitan), Sonda (Mojokerto), Tepok Gunung (Jawa Barat), dan yang lain. Jenis atau bentuk éngklé yang teridentifikasi dalam penelitian Iswinarti (2007) ada 11 bentuk, yaitu sebagai berikut:
- Éngklé bentuk kupingan, kapal balasam, sondah kapal, ebrekan.
- Éngklé bentuk gunung, gunungan
- Éngklé bentuk palang merah
- Éngklé bentuk sorok
- Éngklé bentuk sorok (variasi lain)
- Éngklé Bulet Payung
- Éngklé bentuk orang-orangan
- Éngklé bentuk pa’a
- Éngklé bentuk baling-baling
- Éngklé bentuk TV
- Éngklé Bentuk Menara.
7. Luncat Karet
 |
| Permainan Luncat Karet/dok.banten heritage. |
Nama permainan : Luncat karet ada yang menyebut Yeye
Jumlah pemain : Minimal 3 orang, bisanya perempuan
Alat yang digunakan : Karet gelang yang diuntai atau dianyam
Fungsi alat : -
Cara bermain : Mencoba melewati rintangan karet dengan cara melompat.
Permainan luncat karét atau dengan pola yang sama (bisa menggunakan karet atau tali apa saja) di seluruh daerah dapat dijumpai. Biasanya permaianan ini dimainkan oleh anak perempuan, akan tetapi tak jarang anak laki- lakipun terlihat memainkan permainan yang satu ini.
Permainan diawali dengan terlebih dahulu menentukan siapa yang mempunyai tugas awal untuk menjaga. Cata menentukannya menggunakan permainan cing ciripit, atau menggunakan gamsit, maupun hompimpah. Setelah pemegang karet sudah ditentukan baru giliran siapa yang berhak untuk melakukan lompatan pertama dan seterusnya.
Permainan yang biasanya dilakukan oleh 5 orang atau lebih ini menunjukan fisik serta keterampilan dari para pemainnya. Selain itu, pemain juga dituntut untuk dapat mengukur kemampuan bilamana harus melewati rintangan atau bentangan karet dengan postur tubuhnya.
Selain dituntut kelenturan tubuh dan keberanian dalam mengambil keputusan, para pemain juga dituntut untuk memiliki kemampuan menggunakan berbagai cara. Semisal cara melipat kaki saat melompat, menggunakan tangan saat menggapai, mengatur lari dan lompatan agar tidak sampai terjatuh.
Pemain yang tidak mampu melewati rintangan atau gagal dan tersangkut karet, maka dialah yang harus menggantikan petugas untuk memegang karet.
Awal permainan bentangan (rintangan) karet diletakan di tanah. Setelah itu naik seukuran mata kaki, seterusnya sebetis, selutut, sepinggang, sedada, semulut, atau kuping, sekepala, sejengkal dari kepala dan diakhiri dengan tangan menggapai (merdeka).
Nilai penting yang bisa dipetik dari pemainan ini adalah :
- Bergembira dalam kebersamaan
- Berinteraksi sosial
- Mengasah ketrampilan melompat
- Olahraga melatih otot dan tulang
- Melatih cekatan, trampil dan dinamis
- Menghibur penonton
- Mengasah jiwa sportivitas
***
Tidak ada komentar
Posting Komentar