![]() |
| Sejarah kongres sumpah pemuda pertama |
Setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda dan hari ini Jumat, 28 Oktober 2022 kita memperingati kembali Hari Sumpah Pemuda untuk yang ke-94.
Di Hari Sumpah Pemuda ini, kita berharap bahwa Sumpah Pemuda bukan sekedar dikenang namun juga dimaknai nilai-nilai luhurnya, kemudian juga ditanamkan kepada generasi bangsa saat ini.
Sumpah Pemuda menjadi salah satu peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, peristiwa ini menjadi bukti bahwa pemuda memiliki peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Dalam sebuah majalah, pemuda yang saat itu tergabung dalam organisasi Perhimpunan Indonesia menulis majalah berjudul "Indonesia Merdeka". Tulisan itu diterbitkan pada Februari 1925 dengan tujuan memperjuangkan kemerdekaan Tanah air dan bangsa Indonesia.
Pada masa itu di Indonesia sudah ada berbagai organisasi pemuda, meskipun sifatnya masih kedaerahan membawa identitasnya masing-masing antara lain seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes, dan Sekar Rukun.
Jong, merupakan kata bahasa Belanda, yang artinya "Muda" dan "Celebes" adalah nama-nama Jawa dan Sulawesi, dalam ucapan Bahasa Belanda. Sedangkan, Sekar Rukun merupakan organisasi pemuda Sunda yang didirikan siswa sekolah guru di Jalan Gunung Sari, Batavia pada 26 Oktober 1919.
Dri organisasi-organisasi kedaerahan dan kesukuan tersebut khususnya dari para pimpinannya sudah ada cita-cita mulia, yaitu gagasan untuk merintis persatuan nasional dikalangan angkatan muda Indonesia.
Adapun para pemimpin tokoh yang ingin merintis persatuan nasional dikalangan angkatan muda itu antara lain M. Tabrani, Sumarto, Suwarso, Bandar Johan, Jamaludin Sarbaini, Yan Toule, Soulehuwiy, Paul Piontoan, dan Sanusi Pane.
Majalah "Indonesia Merdeka" telah mendorong mereka untuk bersama-sama berusaha mewujudkan gagasan yang mulia itu dan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan muktamar Indonesia.
Kongres pemuda berlangsung dua kali pertemuan, yaitu Kongres Pemuda Pertama pada 30 April sampai 2 Mei 1926 dan Kongres Pemuda Kedua pada 27 sampai 28 Oktober 1928.
Jalannya Kongres Pemuda Pertama 30 April - 1 Mei 1926
Pada tanggal 15 November 1925 dibentuk panitia Panitia Kongres Pemuda Pertama, yaitu M. Tabrani (Ketua), Sumarto (Wakil Ketua), Jamaludin (Sekretaris), Bendahara (Suwarso), dan anggota (Bahder Johan, Yan Toule Soulehhuwiy, Paul Pinontoan, Sarbaini dan Sanusi Pane).
Pada tahun 1926 Panitia Kongres sudah berhasil menyusun susunan jadwal acara. Rangkaian acara terdiri atas penyampaian pidato dari perwakilan masing-masing pemuda, ada enam orang yaitu Sumarto, Bahder Johan, Muhamad Yamin, Jaksodipura, Paul Pinontoan, nona Stien Adam.
Rangkaian pidato terdiri atas tiga pokok pembicaraan; pertama, tentang persatuan bangsa Indonesia; kedua, tentang kedudukan dan peranan perempuan dalam masyarakat Indonesia; dan ketiga, tentang peranan agama dalam gerakan persatuan, bangsa Indonesia.
Pada saat saya kuliah, dosen saya pernah mengatakan bahwa deklarasi peristiwa Sumpah Pemuda itu tidak ada. Menurut dosen saya Dadan Sudjana, logikanya apabila Sumpah Pemuda itu dikrarkan sudah pasti mereka akan ditangkap oleh Belanda. Mari kita bahas ....
Mendeklarasikan secara lantang, mungkin saja tidak mungkin karena diawasi oleh polisi Belanda. Jadi, pada saat akan dilaksanakan kongres pertama itu, panitia meminta membuat surat izin kepada kepolisian Belanda. Menurut panitia masalah ini penting, karena tanpa surat izin kongres ini tidak akan terlaksana. Lalu apakah diizinkan?
Dalam proses perizinan tentu tidaklah mudah, apalagi berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia. Apabila isi dari kongres ini diketahui oleh Belanda tentu tidak akan diizinkan yakni akan dibubarkan. Tapi dengan perencanaan yang matang akhirnya kongres diizinkan.
Sularto dalam bukunya berjudul "Kongres Pemuda Pertama ke Sumpah Pemuda" diterbitkan Balai Pustaka 1986, mengungkapkan, Ketua Panitia M. Tabrani datang ke kantor kepolisian Belanda. Kepala kepolisian Belanda pada waktu itu bernama Visbeen di Batavia (sekarang Jakarta).
Sularto mengatakan pada saat tiba di kantor polisi Belanda, M. Tabrani terkejut karena bertemu dengan beberapa orang teman lama, yakni Abdul Rahman, Ahmad Mangkudilaga, dan Iming Sastradinata. Ketiga dahulu adalah teman-teman sekolah M. Tabrani. Mereka menjadi pembantu-pembantu dekat dengan tua Visbeen. Dengan bantuan teman-teman Tabrani kegiatanpun berjalan lancar.

1 komentar
Nice
BalasHapusPosting Komentar