![]() |
| Kerbau dalam Kisah Saidjah dan Adinda di Kabupaten Lebak |
Citra Budaya Agraris Nusantara, sudah sepatutnya tidak mengesampingkan jasa binatang yang bernama Kerbau, karena jasanya kepada tanah dan umat manusia merupakan bagian dari warisan peradaban. Para Petani di Nusantara, secara cerdas memanfaatkan sumber daya alamiah yang ada pada makhluk yang bernama latin Bubalus Bubalis itu. Kerbau ini banyak macamnya, ada kerbau hitam, ada juga kerbau berwarna bule yang kulitnya berwarna kemerah-merahan. Tapi yang sering kita jumpai umumnya berwarna hitam, seperti Kerbaunya Saidjah dalam buku roman karya Douwes Deker.
Di setiap daerah kerbau memiliki makna yang berbeda-beda. Di Toraja misalnya, kerbau adalah simbol status sosial dan simbol kemakmuran. Di Kabupaten Karo Sumatera Utara, kerbau sering digunakan dalam radisi kesenian yang disebut gerga. Dalam tradisi gerga ini Kerbau mengandung makna magis dan sakral. Sedangkan, Di Nusa Tenggara Barat (NTB), Kerbau sering digunakan dalam tradisi Barapan Kebo (dibaca: balapan kebo). Tradisi ini diselenggarakan pada awal musim tanam padi. Barapan kebo adalah event tradisional yang dilakukan di NTB saat tiba musim tanam.
Mengenai kerbau dan Petani menarik untuk diulas lagi dalam kisah Saidjah dan Adinda dalam bukunya Max Havelar. Buku roman yang ditulis Eduard Douwes Deker (1820-1887) berjudul Pelelangan Kopi itu menceritakan tentang penderitaan rakyat Lebak oleh kolonial Belanda. Karya roman ini menceritakan bagaimana kerbau memiliki erti penting bagi petani. Ia menyaksikan penderitaan luar biasa dialami oleh para petani ketika dirinya menjadi asisten residen Lebak. Meski demikian, ia hanya menjabat beberapa bulan saja, yaitu 4 Januari sampai 23 Maret 1856. Tapi, apa yang dilihatnya kemudian ia tuangkan dalam buku tersebut, salah satunya membahas kisah kerbau Saidjah dan Adinda ini.
Kisah kerbau Saidjah dan Adinda dalam buku Maxhavelar itu menjadi satu kisah sejarah bahwa kerbau adalah pelindung dan penyelamat petani. Dalam kisah tersebut, digambarkan betapa besarnya peranan kerbau dalam masyarakat agraris terutama sebelum digunakannya peralatan modern dalam pengolahan tanah. Kerbau bukan saja pembantu utama petani dalam pengolahan sawah, tetapi juga menjadi kekayaan bagi sang petani. Pada saat itu, Saidjah hampir mati karena berusaha ingin mempertahankan kerbau miliknya. Saidjah tak berdaya, dan hanya bisa melihat kerbau kesayangannya diambil paksa.
***
Ayah Saidjah adalah seorang petani kecil yang hanya memiliki seekor kerbau untuk membantu mengolah sawahnya yang tak begitu luas. Kerbau tersebut dibelinya dari hasil menjual keris leluhurnya kepada seorang Cina. Tetapi kerbau yang merupakan kekayaan utamanya dan menjadi kawan akrab Saidjah sebagai pengembalanya itu dirampas oleh wedana. Kerbau yang terbilang besar, kuat dan sangat patuh kepada Saidjah ini diminta paksa oleh wedana. Saidjah mengalami kesedihan yang mendalam, apalagi ia menduga bahwa kerbaunya itu telah disembelih.
Dengan menjual barang berupa sepasang kaitan kelambu perak, warisan orang tua ibu Saidjah, ayah Saidjah bisa membeli kerbau lagi. Hanya saja, kerbau ini lebih kecil daripada pendahulunya karena hasil penjualan kaitan kelambu itu tidak banyak. Meskpun kalah kuat dari Kerbau yang dirampas, ia sangat penurut di bawah perintah Saidjah. Dan ternyata Kerbau inilah yang menyelamatkan jiwa Saidjah saat diserang Harimau. Kerbau ini membentengi Saidjah dengan tubuhnya, sambil menghadang serangan seekor harimau dengan tanduknya. Meskipun si kerbau terluka, harimau itu tewas dan Saidjah selamat. Betapa sedihnya Saidjah dan ayahnya ketika kerbau yang menjadi pahlawannya itu akhirnya dirampas oleh wedana.
Ayah Saidjah sudah tidak mampu lagi membeli kerbau. Ini berarti bencana, karena ia tidak bisa membayar lagi pajak tanah. Tanpa bantuan kerbau, pengolahan sawah tidak bisa optimal. Padahal barangsiapa tidak bisa membayar pajak tanah harus masuk penjara. Banyak petani kecil di desa Saidjah mengalami nasib serupa, termasuk ayah Adinda. Adinda adalah tetangga Saidjah yang juga calon isterinya. Dikisahkan oleh Multatuli, Saidjah meninggalkan desanya mencari pekerjaan di Batavia. Ayahnya masuk penjara, sementara Adinda meninggal dan ayah Adinda melarikan diri ke daerah Lampung bersama sejumlah penduduk desa yang Kerbaunya juga dirampas oleh Wedana sehingga tidak mampu lagi membayar pajak tanah. Akhirnya apa? ayah Adinda bersama mereka semua menggabungkan diri dalam gerakan pemberontakan di Lampung.
Ketika Saidjah pulang dari Batavia, setelah berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli tiga ekor kerbau dan siap menikahi Adinda, ia ternyata tidak bisa menjumpai ayah Adinda. Bahkan rumah kekasihnya itu pun tinggal puing-puing. Akhirnya ia menyusul ke Lampung. Setiba disana ia menjumpai ayah Adinda dan ketiga adik Adinda yang masih bocah, namun naas mereka sudah tewas berlumuran darah. Mereka baru saja terbunuh dalam pertarungan melawan serdadu-serdadu kolonial. Dimana Adinda? Ia juga meninggal, mayatnya dalam keadaan telanjang dengan luka di dada ditemukan jasadnya tak jauh dari saudara-saudaranya. Bagaimana reaksi Saidjah? Tentu saja ia marah dan mendatangi serdadu kolonial yang masih berada di area pembantaian itu, ia menghujamkan diri pada sangkur si serdadu.
![]() |
| Ilustrasi/kisah Saidjah dan Adinda |
Kisah tragis mengenai Saidjah dan Adinda ini kiranya dapat memberikan gambaran cukup jelas mengenai proses pengolahan masyarakat atau proses sosial masyarakat Indonesia di zaman kolonial Belanda. Khusus mengenai Kerbau, dalam kisah Saidjah dan Adinda ini tercermin betapa besar peranan Kerbau dalam masyarakat agraris, terutama sebelum digunakannya peralatan modern dalam pengolahan tanah. Kerbau bukan saja pembantu utama petani dalam mengolah sawah, tetapi juga menjadi kekayaan para petani. Dr. F. de Haan (1910-1912) mengungkapkan, masalah kerbau juga mendapat sorotan antara lain masalah pencurian binatang berharga itu. Ya, Kerbau adalah hewan berharga pada masa itu, sehingga kerap kali terjadi pencurian kerbau.
Kerbau menjadi hal penting mulai dari elite tradisional, petani dan pemerintah kolonial. Dalam tradisi masyarakat, Kerbau diceritakan setia kepada petani, rajin dan bekerja keras, santun, tidak suka marah dan menghormati sesama hewan. Sindhunata (2010) menjelaskan, bahwa Kerbau dalam kepercayaan masyarakat merupakan patron bagi pertanian. Oleh karena itu, Kerbau mencerminkan kekuasaan dan kebudayaan agraris. Ia juga menjadi simbol dari mentalitas rakyat di hadapan penguasa. Kebermaknaan Kerbau mengandung proses transformasi sosial, ekonomi, politik, dan kultural.
Secara ekonomi, pemilik Kerbau biasanya menawarkan jasa pembajakan sawah. Pengolahan sawah menggunakan Kerbau ini di kampung saya disebut nyingkal atau ngawaluku. Dari jasa ini pemilik kerbau bisa mendapatkan penghasilan. Selain itu, kotoran kerbau juga bagus untuk dijadikan pupuk berbagai jenis tanaman. Saat itu, saya melihat, kerbau dikeluarkan dari kandangnya, digiring oleh pemiliknya ke sawah. Sedangkan pemilik kerbau membawa alat besar terbuat dari kayu keras. Singkal dan garu namanya, alat ini digunakan untuk pengolahan sawah menggunakan Kerbau. Menurut warga di kampung, membajak menggunakan kerbau diyakini akan mampu mempertahankan humus tanah dan menjaga kualitas dari padi yang dihasilkan.
Selain karena hal tersebut, kerbau dipiih juga karena dianggap lebih jinak, dibandingkan binatang lainnya. Kerbau lebih mudah dikendalikan dan diarahkan di dalam menyiapkan lahan pra-tanam. Mengembalannya pun lebih mudah, sehingga anak-anak petani riang dan tidak takut untuk duduk dipunggung Kerbau sambil meniup seruling. Kerbau pada pada zaman dulu memiliki arti penting, bagi pertani kerbau sangat membantu dalam pengolahan tanah sawah, sehingga panen petani bisa optimal. Seperti diceritakan dalam kisah tersebut, kerbau telah banyak membantu perekonomian para petani diantaranya membayar pajak kepada tuannya. Keakraban Saidjah dengan kerbau juga menunjukan bahwa kerbau memiliki ilustrasi rasa terhadap manusia. Dengan demikian penyelamatan Saidjah oleh kerbaunya dalam kisah di atas bisa juga menjadi lambang bahwa kerbau adalah pelindung dan penyelamat petani.***


Tidak ada komentar
Posting Komentar