Diskusi Kelompok Terumpun Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Mata Uang Kesultanan Banten di Hotel Lie Dian Kota Serang, Senin, 21 Agustus 2023

Organisasi Kebudayaan Banten Heritage (BH) menghadiri undangan kegiatan diskusi terumpun yang diadakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi di Hotel Le Dian, Kota Serang, Provinsi Banten pada Senin, 21 Agustus 2023. 

Kegiatan ini mengangkat tema "Mata Uang Kesultanan Banten", yang merupakan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Kegiatan berlangsung selama satu hari dimulai pukul 08.00 sampai pukul 14.30 WIB  diikuti oleh 20 orang yang terdiri atas unsur pemerintah, akademisi, guru, dan organisasi kebudayaan di Provinsi Banten.

Terdapat tiga topik  yang menjadi fokus diskusi Mata Uang Kesultanan Banten ini. Pertama, Sejarah Mata Uang Kesultanan Banten oleh Dr. Heriyanti O. Untoro, M.A (Dosen Arekologi Universitas Indonesia. Kedua, Tipologi Uang Koin Banten oleh Dr. Sparudin Barus, ST.MM, (pendiri Museum Uang Sumatera) dan; Ketiga, Makna Sosial Budaya Mata Uang Kesultanan Banten oleh Dr. Nurman Kholis (Peneliti BRIN di Khasanah Keagamaan dan Peradaban).

Pada artikel kali ini saya akan membahas apa saja yang didiskusikan mengenai Mata Uang Kesultanan Banten, mengingat Banten merupakan bekas Kesultanan yang pernah berjaya dimasanya. Kegiatan ini tentu sangat bermanfaat karena pembahasan mengenai Mata Uang Kesultanan Banten jarang sekali dilakukan. 

Banten dalam Perdagangan Dunia

Banten merupakan salah satu kesultanan terkaya dimasanya. Banten  adalah kota perdagangan utama yang pada abad ke 16  banyak  pedagang Inggris dan Belanda yang berhasil menjadi kaya akibat perdagangan di Kesultanan Banten. Satu satunya hasil bumi terkenal di Banten adalah lada yang jumlahnya sangat berlimpah. 

Dr. Heriyanti menjelaskan, hingga ada abad ke 17  Banten tetap menjadi pusat  dagang penting di bagian barat pulau Jawa. Raja-raja Banten saat itu memiliki hubungan rutin dengan  pelabuhan pelabuhan India dan Persia lewat pedagang yang datang ke  ibukotanya. 

Sebagai sebuah sentral perdagangan, di dalam kota Banten, terdapat tiga pasar utama yaitu: Pasar besar di timur kota, tempat pertemuan pedagang asing Portugis, Arab, Turki, Cina, India, Melayu, Gujarat, Malabar  dibuka pagi hari setelah matahari terbit sampai pukul sembilan pagi.

Kedua, Pasar yang terletak di depoan mesjid Agung, dibuka pagi hari sampai pukul sembilan malam, yang menjual aneka ragam makanan. Terakhir adalah Pasar di depan istana raja yang menjual berbagai jenis hewan hidup dan sejumlah lada.

Kota Banten adalah pusat perdagangan yang berperan dalam perdagangan jalur sutera dan pusat niaga antar bangsa di dunia. Bahkan Banten bisa disebut sebuah Emporium  yakni kota pelabuhan yang berfungsi sebagai tempat penumpukan barang dagangan, dan tempat terselenggaranya perdagangan internasional.

Mata Uang Kesultanan Banten

Menurut Dr. Saparudin, catatan awal tentang mata uang banten dapat ditemukan dalam catatan E. Netscher and J.A. Van der Chijs, De Munten Van Nederlandsch Indie (1864), Dutch Language, H.C. Millies, Recherches sur Les Monnaies des Indigenes de L’Archipel Indien et de la Peninsule Malaie (1871), French Language, dan C. Scholten, De Munten van de Nederlandsche Gebiedsdeelen Overzee 1601-1948 (1951), Dutch Language.